Ta'wil kalimat "makan nasi jangan sampai tersisa!, nanti nasinya nangis" dalam paradigma Fiqih Ekologis
30
Jan

Ta'wil kalimat "makan nasi jangan sampai tersisa!, nanti nasinya nangis" dalam paradigma Fiqih Ekologis

Kalimat simple yang sering seliweran di telinga, terdengar hanya sebuah peringatan, "makan nasi jangan sampai tersisa!, nanti nasinya nangis" bagaikan angin kecil yang tidak mampu menggoyangkan ranting pikiran. Seolah pikiran tak terbesit untuk memahaminya melainkan sekedar peringatan untuk tidak membuang-buang makanan. Hal yang terlihat tidak penting namun memiliki sejuta akar pemaknaan. Secara sederhana, kata sifat "Nangis" yang disandingkan dengan kata nasi terkesan tidak bisa dicerna maknanya. Namun dalam bahasa Indonesia kalimat seperti disebut dengan istilah metafora (gaya bahasa yang mengalihkan makna berdasarkan persamaan atau asosiasi tertentu, tanpa menggunakan kata pembanding seperti bagaikan, atau laksana).

Dalam kacamata lingkungan kalimat ini mungkin untuk diarahkan pada makna menghargai dan merawat Bumi. Dalam sudut pandang menghargai bumi sebagai ladang kebutuhan manusia seperti yang dijelaskan dalam Al qur'an surah Al-Baqarah ayat 22, Nasi yang menangis menggambarkan keadaan sesuatu dengan segala prosesnya yang rumit, namun terlantar hampa seakan tidak berharga. Dari benih padi yang ditanam, pupuk segar yang ditaburkan, dengan menunggu waktu yang sangat panjang, menjaganya agar tidak dirusak oleh hama, dipanen kemudian diangkut untuk digiling dan beralih status menjadi beras, lalu dimasak menjadi nasi yang siap dihidangkan, namun ironisnya sebagian butir beras itu berakhir ke dalam tempat sampah. Seakan dengan proses yang begitu padat ia berkata "kok Cuma aku yang tidak berakhir dalam pencernaan? aku kan sama dengan mereka :(". Sekilas membuang butir nasi, bukanlah sebuah problem, namun sebenarnya Cairan hasil pembusukan nasi (leachate) dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari air dalam tanah. Menurut Hellosehat, pengelolaan sampah yang tidak baik (termasuk nasi yang dibuang) dapat menumpuk dan mencemari tanah dengan zat beracun yang terurai dari limbah organik.

Syekh Yusuf Al-Qardhawi tidak secara gamblang menjelaskan terkait pencemaran tanah yang disebabkan cairan hasil pembusukan nasi, namun setidaknya penjelasan di atas dapat dikorelasikan dengan penjelasan konsep Kufr terhadap nikmat-nikmat Allah, dalam karangannya Ri'ayah Al-Bi'ah hal 230.

٦- الكفر بأنعم الله:

ومن أسباب فساد البيئة أو ظهور الفساد في البر والبحر : الكفران بأنعم الله تعالى . فقد أتى الله الإنسان نعما كثيرة هيأ له أسبابها، ووفر له مصادرها ، ويسر له سبلها، وكلما كانت حاجته إلى هذه النعم أشد وأكثر، كان عطاؤه تعالى فيها أعظم وأوفر .

حتى إن أعلى النعم وأنفسها وأعظمها عند الإنسان هي أرخصها، بل هي في الغالب توفر له مجانا بلا مقابل، مثل الماء والهواء، والشمس والضياء. فإن الله تعالى وفرها للعباد بكميات وافرة، تفي بمتطلبات الإنسان وحاجاته دون أن يحتكرها أحد، إلا ظالما، كالذين يحتكرون الماء العام، وهو في الأصل ملك للناس كافة . بيد أن الإنسان لم يرع حق هذه النعم الجليلة، ولم يؤد شكرها، كما يجب، بل استخدمها في غير ما خلقت له ، فعصى الله تعالى بها، أي أنه اتخذ نعم الله أدوات في معصية الله. وهذا هو الكفران بالنعمة، الذي يؤدي إلى زوالها، ويوجب لفاعله العقوبة من واهب النعم سبحانه .

وقد قال عز وجل : لئن شكرتم لأزيدنكم وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ) (إبراهيم : ٧ (فكل من كفر بأنعم الله استحق عذابه جزاء وفاقا، وذلكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وأن الله ليس بظلام للعبيد

(آل عمران : ۱۸۲ )

Terdapat pesan etik yang sama dalam penjelasan Syekh yusuf, yakni larangan menyia-nyiakan nikmat Allah dan kewajiban mensyukurinya melalui pemanfaatan yang benar. Dalam pandangan fiqh al-bi'ah sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf al-Qaradawi, kerusakan lingkungan termasuk pemborosan pangan, bersumber dari sikap manusia yang menggunakan nikmat Allah tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Nasi sebagai makanan pokok merupakan hasil dari rangkaian panjang nikmat alam (tanah, air, cahaya matahari, dan kerja manusia). Ketika nasi dibuang atau dibiarkan terbuang sia-sia, tindakan tersebut secara simbolik digambarkan sebagai "nasi nangis", yakni ekspresi budaya yang menegaskan bahwa nikmat pangan telah diperlakukan secara zalim dan tidak disyukuri. Secara ekologis, pemborosan nasi juga berujung pada penumpukan sampah organik yang berpotensi mencemari tanah dan air, sehingga memperkuat kaitan antara kufur nikmat dan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, ungkapan "nasi nangis" dapat dipahami sebagai bahasa moral populer yang sejalan dengan prinsip fiqh Islam "mensyukuri nikmat bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan mengelolanya secara bijak, adil, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan".

Admin Website

Penanggung jawab konten dan informasi di website resmi Ma'had Aly Darul Lughah Wal Karomah.

MA'HADALY

Mencetak Mahasantri yang intelek dan profesional, berwawasan luas, serta berakhlakul karimah.

Ikuti Kami
Hubungi Kami

Jl. Mayjen Panjaitan No.12, Sidomukti, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.

0823-8388-5771 / 0853-3137-24819

[email protected]

Buletin

Copyright © MA'HAD ALY. All Rights Reserved.